11.12.07

Ayah & Arah

Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktek konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara keterlibatan ayah dan pertumbuhan kepribadian anak laki-laki. Saya perhatikan biasanya anak-anak seperti ini memperlihatkan beberapa ciri yang serupa misalnya, mereka memiliki banyak keraguan dan ketidakpastian dalam hidup. Mereka bersikap pasif dan menuntut orang untuk senantiasa memahami dan menyediakan kebutuhan mereka. Di dalam mengarungi kehidupan, biasanya mereka mencari-cari "sesuatu' sehingga apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu memberikan kepuasan yang sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang terus mencari tempat atau habitat mereka dalam hidup ini.

Semua anak laki atau perempuan membutuhkan ayah namun secara khusus anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk identifikasi. Saya jelaskan apa yang saya maksud dengan identifikasi. Pada umumnya kita menggunakan istilah identifikasi dalam pengertian bahwa kita melihat adanya persamaan antara yang dimiliki atau dialami seseorang dengan yang kita alami atau miliki. Misalnya, kita berkata bahwa kita dapat mengidentifikasi dengan perasaan seorang teman yang kehilangan pasangannya sebab kita pun pernah kehilangan pasangan kita. Namun sebenarnya Freud memperkenalkan istilah identifikasi bukan dengan pemahaman itu. menurut Freud, identifikasi adalah menginternalisasikan kualitas yang ada pada orang lain ke dalam diri sendiri. Jadi, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang dan semakin berpengaruh orang itu dalam hidup kita, semakin banyak sifat atau kualitasnya yang akan kita serap dan jadikan bagian diri kita.

Ayah dan ibu adalah objek identifikasi terdini dan terkuat. Mereka adalah pemasok bahan yang nantinya diinternalisasikan anak ke dalam dirinya. Semakin banyak interaksi orangtua dan anak, semakin banyak bahan dari orangtua yang akan diserap oleh anak. Bahan yang telah diserap ini kemudian menjadi bagian dari kepribadian anak itu. Sudah tentu di sini berlaku sebuah hukum alam: Bahan buruk akan masuk menjadi bagian yang buruk dari kepribadian anak sedangkan bahan baik akan masuk menjadi bagian yang baik dari kepribadian anak.

Salah satu bahan yang seharusnya diserap oleh anak ialah bahan yang berkaitan dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan. Dapat kita duga bahwa anak perempuan akan menyerap banyak dari ibu sedangkan anak laki akan menyerap dari ayah. Dari ayahlah anak laki-laki belajar menajdi seorang pria dan menjadi pria dalam kebanyak budaya berarti menjadi seseorang yang tahu akan arah hidupnya, sebab bukankah pada akhirnya pria diharapkan mengepalai keluarganya sendiri?

Kira-kira seperti inilah prosesnya. Pada awalnya semua anak menginternalisasi dari ibu sebab ibulah yang berperan besar pada masa pertumbuhan awal. Dengan bertambahnya usia, anak-anak laki akan harus mengalihkan objek identifikasinya dari ibu ke ayah atas dasar persamaan jenis kelamin. (Sudah tentu anak perempuan tidak perlu mengubah objek identifikasinya.) Ketidakhadiran ayah dalam pertumbuhan anak laki-laki bukan saja akan menciptakan kevakuman objek identifikasi - dan inilah yang akan terus dicari oleh si anak sampai usia dewasanya - kevakuman ini juga telah menciptakan kekosongan arah hidup. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan, tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan (sudah tentu mereka akan malu untuk mengakuinya), dan mereka memiliki seribu satu macam keraguan. Pada akhirnya ironi inilah yang saya lihat: di belakang ayah-ayah yang terpuji dan terhormat terdapat anak laki-laki yang bingung dan penuh dengan ketidakpastian.

Kunci penyelesaian dari semua ini adalah keterlibatan. Saya perhatikan ada perbedaan antara ayah yang hanya berfungsi sebagai panutan peran (role-model) dan ayah yang terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya. Ayah yang indah tetapi tidak terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya dapat diibaratkan seperti ikan hias di dalam akuarium - sedap dipandang namun sedikitpun tidak bersentuhan dengan kehidupan anaknya. Memang ayah yang seperti ini akan menjadi panutan peran yang positif namun masalahnya adalah, ayah ini tidak melakukan apa-apa untuk menolong anak laki-lakinya menjadi seperti dirinya - mantap dan terarah karena ia tidak cukup terlibat untuk menjadi penyedia bahan identifikasi bagi anak laki-lakinya.

Acapkali kehilangan keterlibatan ayah bukan saja menghasilkan pribadi yang terombang-ambing tanpa arah tetapi juga menyulut kemarahan, yang biasanya muncul dalam bentuk pemberontakan atau apati. Mohon perhatilam perbandingan ini. Ada anak yang bertumbuh tanpa ayah karena ayah mereka telah meninggal dunia. Sudah tentu mereka akan mengalami kesedihan dan akan merindukan kehadiran ayah dalam hidup mereka. Namun jika situasinya adalah, mereka kehilangan ayah bukan karena kematian melainkan karena kesibukan atau kekurangpedulian, reaksi yang muncul bukan hanya rindu tetapi juga marah. Mereka marah karena mereka melihat bahwa sebenarnya ayah bisa memberikan perhatian namun tidak mau atau tidak cukup peduli. Di pihak lain, mereka merindukan ayah dan mungkin ingin menjadi seperti ayah namun tidak mampu. Alhasil, kemarahan dan kerinduan bercampur dalam diri anak menciptakan konflik internal yang tak terselesaikan.

Amsal menyajikan sebuah skenario yang indah mengenai hubungan ayah-anak dan hikmat, "Dengarkanlah hai anak-anak didikan seorang ayah dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian,.......Karena ketika ak masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak ..... aku diajari ayahku, katanya kepadaku, 'Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup." (Amsal 4:1-4)

"Diajari ayahku." Betapa indah dan akrab, namun tampaknya itulah yang sekarang telah terhilang. (Pdt. Dr. Paul Gunadi)

[+/-] Selengkapnya...

Kampanye Anti KDRT

[+/-] Selengkapnya...

1.12.07

Bersyukurlah

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang Pak Guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.

" Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini.
Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuat kalian bahagia ? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini ?"

Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara lagi dari Pak Guru,
" Ya, ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidup kalian ..."

Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan Pak Guru itu menunjuk pada seorang murid.
" Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui ? Berbagilah dengan teman-temanmu .."

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, " Seminggu yang lalu, adalah saat-saat yang sangat besar buat saya. Orang tua saya, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang saya impikan selama ini."

Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu. "Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu !"

Pak Guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka, terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir.

Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung.

Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara,hingga terdengar suara dari arah belakang. " Pak Guru ... Pak, saya belum bercerita."

Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

" Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua," ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu.

" Apa hal terbesar yang kamu dapatkan ?" ujar Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

" Keberhasilan terbesar buat saya, dan juga buat keluarga saya adalah ...
saat nama keluarga kami tercantum dalam Buku Telepon yang baru terbit 3 hari yang lalu."

Sesaat senyap.
Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu.
Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar,
" Ha ? Saya sudah sejak lahir menemukan nama keluarga saya di Buku Telepon. Buku Telepon ?
Betapa menyedihkan ... hahaha ..."

Dari sudut lain, ada pula yang menimpali,
" Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu ?"

Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan. Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan.

" Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak ..."

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara.
" Ya, memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah saya dapatkan. Dulu, Papa saya bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi."

Matanya tampak menerawang.
Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan.

" Tapi, kini Papa telah berubah. Dia telah mau menjadi Papa yang baik buat keluarga saya. Sayang, semua itu tidak butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja. Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Papa saya.
Dan kini, Papa berhasil. Bukan hanya itu, Papa juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi."

" Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluarga saya ada di Buku Telepon ?
Itu artinya, saya tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan Papa untuk terus berlari.
Itu artinya, saya tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang saya sayangi.

Itu juga berarti, saya tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin.
Dan itu artinya, saya, dan juga keluarga saya, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya."

Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir.
" Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang saya dapatkan nanti ..."

Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk.

Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan.
Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan.

Mereka juga belajar satu hal :
" Bersyukurlah dan berbahagialah setiap kali kita mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun ...Sebesar apapun ..."


[+/-] Selengkapnya...

9 Alasan Pria Menikah

Pernah ada yang kirim email ke saya katanya dari blog majalah AdInfo Pluit, tapi pas dikunjungi nggak ada. Ya sudah pokoknya silahkan dibaca deh alasan-alasan pria nikah:

Cinta
Suatu hari Bram berkenalan dengan Rien. Pada detik itu juga, Bram langsung merasa cocok. “Semua yang ada padanya klop denganku. Sebentar saja tak bertemu, rasanya ada sesuatu yang hilang.” Kata Bram. Selanjutnya Bram dan Rien semakin akrab, bahkan mereka dengan cepat mengetahui isi hati dan kepala masing-masing.”Jadi, apalagi yang kami tunggu?”
Menikah karena alasan cinta memang hal yang paling sering terjadi. Dan untuk yang satu ini sulit dicari penjelasannya.. Mungkin lebih tepat disebut misteri. Cinta memang bisa terbit pada pandangan pertama, namun juga bisa muncul perlahan-lahan tanpa disadari. Pria yang menikah karena cinta, umumnya tak bisa menjelaskan, kenapa mereka memutuskan untuk menikah. “Terjadi begitu saja”, kata mereka. Bagi mereka, pernikahan bukanlah suatu akhir dari sebuah proses, tapi awal sebuah perjalanan baru.

Ingin Memiliki Keluarga
Umur Edo sudah 41 tahun, namun ia belum juga beristri. Hingga suatu hari, dia berkesempatan ngobrol dengan seorang rekannya yang lebih muda. Sang teman bercerita dengan penuh kebahagiaan dan kebanggan tentang anak-anaknya. “Disitulah aku mulai panic. Apakah aku nanti harus menggendong bayi saat punggungku sudah bungkuk?” tututr Edo yang kemudian memutuskan harus segera “bertindak”.
Bagi kebanyakan pria, memiliki keluarga yang harmonis dan anak-anak yang lucu adalah cita-cita yang indah. Bagi mereka, memiliki keluarga juga menjadi sumber ketenangan, dukungan, kehangatan, dan pengalaman hidup yang benar-benar baru.

Kebersamaan
Pada mulanya , Angga tak pernah berpikir menyunting Seli, mitranya di sebuah studio pahat. Hubungan mereka awalnya murni teman kerja. Bahkan Seli sempat punya pacar yang ganteng. Toh pada akhirnya Angga memberanikan diri meningkatkan hubungan dengan Seli ke jenjang yang lebih lanjut. Dan akhirnya , Angga melamar Seli. “Kami banyak melewatkan pengalaman bersama, baik dalam senang dan susah. Seli banyak membantu saya di masa-masa sulit, “ kisah Angga.
Tipe pria seperti Angga menganggap perkawinan adalah semacam kerjasama dua orang untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi mereka bersama, Mereka berharap, perkawinan akan membantu mereka lebih saling mendukung dan memperhatikan selama masa-masa sulit dan masa-masa menyenangkan. Karena itu, mereka mencari pasangan hitup yang sudah teruji kualifikasinya untuk persyaratan tersebut.

Komitmen
Pria memang terkadang tampak kurang suka terlibat dalam komitmen. Tapi sesungguhnya keinginan komitmen mereka lebih dari yang diduga. Percaya atau tidak, sebagian besar pria menginginkan menikmati hari tuanya bersama seorang istri. Dan itu menunjukkan mereka tetap ingin setia pada satu pasangan hidup.

Kepercayaan
Kepercayaan juga termasuk alasan pria untuk menikah. Entah itu berupa keinginan untuk memiliki seorang yang bisa mempercayai mereka, ataupun sebaliknya yang bisa mereka percayai. Kepada siapa lagi kita bisa mengungkapkan segala kekesalan, masalah, sakit hati, bahkan rahasia pribadi, jika bukan pada pasangan hidup kita? Kepada siapa mereka bisa hidup bersetia dan bersikap jujur. Pria seperti ini akan mengiba-iba memberikan hatinya kepada perempuan yang telah mencurahkan rahasia padanya, yang membuat lelucon tentang uang belanjanya.

Persamaan Pandangan Hidup
Wanita yang memiliki pandangan hidup sama dengan dirinya, itulah yang dicari Pram. Ia mengaku sudah sering ganti pacar, namun tak satupun yang memiliki kesepakatan soal nilai-nilai hidup. “Mereka selalu memandang segala sesuatu dari sudut yang berbeda dariku”, keluh Pram. Baru ketika bertemu Teti, ia langsung terpikat dan meminangnya. Pasalnya, cara pandang Teti terhadap berbagai hal ternyata tak jauh berbeda dari Pram.”Reaksi-reaksi kami terhadap masalah politik, suasana kerja, sampai keluarga, rasa2nya hampir sama” , kata Pram.
Kecocokan ini bisa juga dipengaruhi oleh latar belakang keluarga kedua pihak yang mirip. “Bila bersama keluarga mertua, aku merasa nyaman. Bahkan hampir tak perlu melakukan penyesuaian diri”, kata pria lain.
Dalam beberapa kasus, perbedaan pandangan ini memang menjadi sumber keretakan sebuah rumah tangga..

Persahabatan Sejati
Sulit dipahami, memang. Kalau ingin bersahabat, kenapa mesti menikah? Namun perkawinan sesungguhnya adalah upaya menemukan seorang sahabat yang terbaik. Rudy, seorang pegawai bank, mengisahkan pengalaman kakak perempuannya. Sang kakak menikah begitu lulus kuliah. “Ketika itu suaminya baru merintis bisnis kecil-kecilan. Jadi keuangan mereka pas-pasan, “ tutur Rudy. Kendati serba kepepet, sang kakak di nilai Rudy mampu mengatasi masalah bersama-sama suaminya. Cekcok bukan hal aneh. “Tapi mereka juga sering bercanda dan tertawa bersama.” Bagi Rudy, pasangan tersebut saling menyayangi dan mampu menjadi sahabat yang baik.

Penerimaan Masyarakat
Alasan yang ini terkesan agak dangkal ya? Tapi pada kenyataannya, kebanyakan orang memang merasa lebih aman dan nyaman jika bekerja sama dengan seseorang yang sudah berkeluarga. Sebaliknya, mereka merasa kurang safe jika bergaul dengan mereka yang masih melajang.
Di sisi lain, status sebagai suami juga dipandang lebih terhormat daripada pria lajang. Sikap seperti ini antara lain tercermin pada peraturan kerja di perusahaan. Seorang karyawan bank mengisahkan, ia tak boleh datang ke pesta kantor karena masih bujangan. “Hanya lajang yang sudah 10 tahun bekerja yang boleh datang. Tapi pegawai lain yang baru sehari, tapi sudah beristri, otomatis boleh datang.”

Kesepian
Sebuah survey menyimpulkan bahwa pria dua kali lebih banyak mengungkapkan alasan kesepian sebagai alasan untuk menikah dibanding wanita. Masuk akal juga. Seberapa banyak pilihan kegiatan seorang pria yang tak beristri ? Kongkow-kongkow dengan temannya? Jalan-jalan ke mal? Sewa video? Apapun, setelah beberapa saat mereka jadi bosan sendirian. Tak heran jika kesepian menjadi salah satu alasan pria untuk mencari istri.
Seorang pengusaha mengisahkan, betapa ia semula lebih suka hidup membujang. Mungkin seperti lirik lagu, “Kemana-mana asalkan suka, tiada orang yang melarang.” Namun pada akhirnya ia mulai bingung memikirkan apa yang akan dilakukan selama sisa hidupnya. “Aku mulai merasa sepi. Bahkan mulai ketakutan membayangkan kematian. Sungguh, aku tak ingin meninggal, dalam kesendirian,” papar sang pengusaha yang akhirnya memutuskan menikah. “Mungkin saja aku menikah dengan alasan yang salah, tapi kesepian toh alasan juga,” tambahnya.

[+/-] Selengkapnya...