9.1.08
Diposting oleh
Novry Simanjuntak
di
18.39
0
komentar
4.1.08
Camp Pria Periode 6
Pria adalah SUMBER/KEPALA. Apabila sumber dipulihkan (MAKSIMAL) maka istri, anak dan keluarga PASTI akan diPULIHkan.
Apakah Anda sebagai seorang pria sudah maksimal dalam keluarga, karir/usaha dan pelayanan?
Apakah Anda figur seorang Ayah yang diinginkan anak Anda?
Bagaimana kesan rekan bisnis/bawahan terhadap Anda?
Akankah istri Anda TETAP memilih Anda sebagai suaminya jika ia dilahirkan kembali?
Temukan jawaban atas pertanyaan terbesar dalam hidup seorang pria. Ikuti camp ini, berusahalah untuk berubah dan rasakan berkat Allah turun kepada kita.
Waktu & Tempat Camp:
Sabtu & Minggu tanggal 15-16 Maret 2007
Wisma Kompas Gramedia Cipanas
Informasi & Pendaftaran:
Eddy Adiel, 999 88 655, 0811 144 655
Novry Simanjuntak, 0811 99 29 89, 6866 9989
email. priasejati.semanan@gmail.com
Yang dianjurkan ikut Camp tidak terbatas hanya bagi yang mengalami masalah-masalah berat seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Perselingkuhan, Minuman Keras, Narkoba, Judi, Perdukunan, dll. Tetapi juga perlu bagi Pria yang merasa tidak ada masalah (normal/datar saja) atas kehidupan keluarga, karir/usaha dan pelayanannya.
Diposting oleh
PRIA
di
15.53
0
komentar
1.1.08
KOMITMEN
Tergelitik oleh novel TESTPACK karangan Ninit Yunita yang bercerita tentang kekuatan sebuah komitmen, saya lantas berandai-andai dan mencoba menyimpulkan arti komitmen --versi saya sendiri, tentunya.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami menerima istrinya dengan segala kekurangan dan kelemahannya tanpa menghakimi. Bersyukur ketika istrinya tampil menawan, dan sama bersyukurnya ketika sang istri mengenakan daster dengan wajah berminyak tanpa make-up. Bersyukur ketika bentuk tubuh sang istri berubah setelah melahirkan, dan tetap mengecupnya sayang sambil bilang, "Kamu cantik."
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami tidak membongkar kelemahan istrinya pada orang lain. Sebaliknya, menutupi rapat-rapat setiap kekurangan itu dan dengan bangga bertutur bahwa sang istri adalah anugerah terindah yang pernah hadir dalam hidupnya.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri menunggui suaminya pulang hingga larut malam, membuatkan teh hangat dan makanan panas, dan tetap terbangun untuk menemani sang suami bersantap serta mendengarkan cerita-ceritanya yang membosankan di kantor.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri bertahan ketika suaminya jatuh sakit, dan dengan sukacita merawatnya setiap hari. Menghiburnya, menemaninya, menyuapinya, memandikannya, membersihkan kotorannya.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri terus mendampingi suaminya tanpa mengeluh atau mengomel. Sebaliknya, dengan setia tetap mendukung dan menyemangati meski sang suami pulang ke rumah dengan tangan kosong, tanpa sepeser uang pun.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat sepasang suami istri memutuskan untuk terus mengikatkan diri dalam pernikahan, dengan tulus dan sukacita, meskipun salah satu dari mereka tidak bisa memberikan anak.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat putra pelaku kriminal berkata kepada Ayahnya, "Saya percaya pada Papa. Papa tetap yang terbaik."
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang yang bergelar S3 dengan jabatan direktur perusahaan multinasional pulang ke rumah orangtuanya, mencium mereka dengan hormat, serta memanggil mereka 'Ayah' dan 'Ibu'.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ayah menerima kembali anaknya yang telah menyakiti dan meninggalkannya begitu rupa dengan tangan terbuka, memeluknya dan melupakan semua kesalahan yang pernah dilakukan si anak terhadapnya.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ibu mengelus sayang anak yang pernah mencacinya, dan tetap mencintainya tanpa syarat.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang mengulurkan tangan kepada sahabatnya yang terjerembab, menariknya berdiri dan membantunya berjalan tanpa mengatakan, "Tuh, apa kubilang! Makanya."
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang pekerja menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik, sekalipun tugas itu amat berat dan upah yang diperoleh tidak sepadan.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati dan tekad demi mencapai sebuah tujuan, sekalipun ia belum dapat mengetahui hasil akhir dari tujuan tersebut. Berjerih payah dan berkorban demi menyelesaikan tujuannya, sekalipun semua orang meninggalkannya.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang rela meninggalkan segala sesuatu yang berharga demi memenuhi panggilan hidupnya, walau harga yang harus dibayar tidak sedikit dan medan yang ditempuh tidak ringan.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang berani setia dan percaya, meski harapannya tidak kunjung terpenuhi dan tidak ada yang dapat dijadikan jaminan olehnya.
Komitmen adalah sesuatu yang melampaui segala bentuk perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah. karena ketika kita berani mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, kita telah 'mati' terhadap kepentingan diri sendiri. (sumber: CMN Banten)
Diposting oleh
PRIA
di
17.37
0
komentar
11.12.07
Ayah & Arah
Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktek konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara keterlibatan ayah dan pertumbuhan kepribadian anak laki-laki. Saya perhatikan biasanya anak-anak seperti ini memperlihatkan beberapa ciri yang serupa misalnya, mereka memiliki banyak keraguan dan ketidakpastian dalam hidup. Mereka bersikap pasif dan menuntut orang untuk senantiasa memahami dan menyediakan kebutuhan mereka. Di dalam mengarungi kehidupan, biasanya mereka mencari-cari "sesuatu' sehingga apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu memberikan kepuasan yang sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang terus mencari tempat atau habitat mereka dalam hidup ini.
Semua anak laki atau perempuan membutuhkan ayah namun secara khusus anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk identifikasi. Saya jelaskan apa yang saya maksud dengan identifikasi. Pada umumnya kita menggunakan istilah identifikasi dalam pengertian bahwa kita melihat adanya persamaan antara yang dimiliki atau dialami seseorang dengan yang kita alami atau miliki. Misalnya, kita berkata bahwa kita dapat mengidentifikasi dengan perasaan seorang teman yang kehilangan pasangannya sebab kita pun pernah kehilangan pasangan kita. Namun sebenarnya Freud memperkenalkan istilah identifikasi bukan dengan pemahaman itu. menurut Freud, identifikasi adalah menginternalisasikan kualitas yang ada pada orang lain ke dalam diri sendiri. Jadi, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang dan semakin berpengaruh orang itu dalam hidup kita, semakin banyak sifat atau kualitasnya yang akan kita serap dan jadikan bagian diri kita.
Ayah dan ibu adalah objek identifikasi terdini dan terkuat. Mereka adalah pemasok bahan yang nantinya diinternalisasikan anak ke dalam dirinya. Semakin banyak interaksi orangtua dan anak, semakin banyak bahan dari orangtua yang akan diserap oleh anak. Bahan yang telah diserap ini kemudian menjadi bagian dari kepribadian anak itu. Sudah tentu di sini berlaku sebuah hukum alam: Bahan buruk akan masuk menjadi bagian yang buruk dari kepribadian anak sedangkan bahan baik akan masuk menjadi bagian yang baik dari kepribadian anak.
Salah satu bahan yang seharusnya diserap oleh anak ialah bahan yang berkaitan dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan. Dapat kita duga bahwa anak perempuan akan menyerap banyak dari ibu sedangkan anak laki akan menyerap dari ayah. Dari ayahlah anak laki-laki belajar menajdi seorang pria dan menjadi pria dalam kebanyak budaya berarti menjadi seseorang yang tahu akan arah hidupnya, sebab bukankah pada akhirnya pria diharapkan mengepalai keluarganya sendiri?
Kira-kira seperti inilah prosesnya. Pada awalnya semua anak menginternalisasi dari ibu sebab ibulah yang berperan besar pada masa pertumbuhan awal. Dengan bertambahnya usia, anak-anak laki akan harus mengalihkan objek identifikasinya dari ibu ke ayah atas dasar persamaan jenis kelamin. (Sudah tentu anak perempuan tidak perlu mengubah objek identifikasinya.) Ketidakhadiran ayah dalam pertumbuhan anak laki-laki bukan saja akan menciptakan kevakuman objek identifikasi - dan inilah yang akan terus dicari oleh si anak sampai usia dewasanya - kevakuman ini juga telah menciptakan kekosongan arah hidup. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan, tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan (sudah tentu mereka akan malu untuk mengakuinya), dan mereka memiliki seribu satu macam keraguan. Pada akhirnya ironi inilah yang saya lihat: di belakang ayah-ayah yang terpuji dan terhormat terdapat anak laki-laki yang bingung dan penuh dengan ketidakpastian.
Kunci penyelesaian dari semua ini adalah keterlibatan. Saya perhatikan ada perbedaan antara ayah yang hanya berfungsi sebagai panutan peran (role-model) dan ayah yang terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya. Ayah yang indah tetapi tidak terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya dapat diibaratkan seperti ikan hias di dalam akuarium - sedap dipandang namun sedikitpun tidak bersentuhan dengan kehidupan anaknya. Memang ayah yang seperti ini akan menjadi panutan peran yang positif namun masalahnya adalah, ayah ini tidak melakukan apa-apa untuk menolong anak laki-lakinya menjadi seperti dirinya - mantap dan terarah karena ia tidak cukup terlibat untuk menjadi penyedia bahan identifikasi bagi anak laki-lakinya.
Acapkali kehilangan keterlibatan ayah bukan saja menghasilkan pribadi yang terombang-ambing tanpa arah tetapi juga menyulut kemarahan, yang biasanya muncul dalam bentuk pemberontakan atau apati. Mohon perhatilam perbandingan ini. Ada anak yang bertumbuh tanpa ayah karena ayah mereka telah meninggal dunia. Sudah tentu mereka akan mengalami kesedihan dan akan merindukan kehadiran ayah dalam hidup mereka. Namun jika situasinya adalah, mereka kehilangan ayah bukan karena kematian melainkan karena kesibukan atau kekurangpedulian, reaksi yang muncul bukan hanya rindu tetapi juga marah. Mereka marah karena mereka melihat bahwa sebenarnya ayah bisa memberikan perhatian namun tidak mau atau tidak cukup peduli. Di pihak lain, mereka merindukan ayah dan mungkin ingin menjadi seperti ayah namun tidak mampu. Alhasil, kemarahan dan kerinduan bercampur dalam diri anak menciptakan konflik internal yang tak terselesaikan.
Amsal menyajikan sebuah skenario yang indah mengenai hubungan ayah-anak dan hikmat, "Dengarkanlah hai anak-anak didikan seorang ayah dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian,.......Karena ketika ak masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak ..... aku diajari ayahku, katanya kepadaku, 'Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup." (Amsal 4:1-4)
"Diajari ayahku." Betapa indah dan akrab, namun tampaknya itulah yang sekarang telah terhilang. (Pdt. Dr. Paul Gunadi)
Diposting oleh
Novry Simanjuntak
di
18.58
0
komentar




