20.9.07

Tiga Tekanan Dalam Hidup Pria

Seorang pria berumur 45 tahun datang menghampiri saya dengan wajah sedih menceritakan kisah hidupnya yang menurutnya sudah tidak ada harapan. Kami bertemu beberapa bulan lalu seusai pertemuan Pria Sejati. Terkejut mendengar perkataannya, “Pak, jika saya tidak diajak teman untuk mengikuti acara ini, saya dan keluarga pasti sudah hangus terbakar di rumah.”

Ia melanjutkan, “Saya berencana membakar istri, anak-anak, dan saya sendiri di dalam rumah karena tidak sanggup lagi menghadapi masalah ini. Saya tidak ingin istri dan anak-anak menanggung beban ini. Jadi lebih baik kami mati.”

Dalam 2 tahun terakhir, saya menemukan banyak pria hidup mengenaskan seperti pria di atas. Keadaan tersebut ditemukan mulai dari hubungan suami-istri, orang tua-anak hingga masalah keuangan dan tekanan pekerjaan.

Walau banyak orang berpendapat, bahwa pria dianggap pelaku penyebab kekacauan rumah tangga, namun saya juga menemukan pria adalah ‘korban’. Korban masa lalunya yang buruk, korban respon orang-orang di sekelilingnya yang melecehkan dan meremehkan hidupnya.

Akhirnya pria menjadi sosok yang letih, stres, tertekan di tengah perubahan dan tantangan yang makin berat, demikian dikatakan Patrick Morley dalam bukunya, “Seven Seasons of the Man in the Mirror”.

Saya merangkum paling tidak ada 3 tekanan utama yang menyebabkan pria menjadi letih, stres, akhirnya memilih kabur dari masalah dan terjebak dalam perselingkuhan, perjudian, pembunuhan, dan sebagainya.

1. Tekanan Pekerjaan
Pria harus bekerja. Betul! Tapi yang menjadi tekanan adalah upaya mempertahankannya agar tetap bisa hidup. Pria jadi berhitung apakah penghasilannya cukup atau tidak. Belum lagi kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan anak, hutang kartu kredit yang tak kunjung selesai.

Sebaliknya, bagi yang memiliki keuangan mapan, bisa saja terjebak pada pemikiran bagaimana menghasilkan lebih banyak lagi. Belum lagi datang tekanan dari orang-orang muda yang lebih kreatif, memiliki energi kerja lebih besar dibanding orang-orang yang sudah tua.

Loyalitas sepertinya tidak dianggap sebagai sesuatu yang berarti, digantikan kreativitas, fleksibilitas dan kecepatan. Akibatnya, banyak pria mengejar performa hingga harus rela pulang lebih malam, menggunakan waktu berlibur keluarga dengan bekerja. Akhirnya menjadi stres, kuatir, takut digeser posisinya, dan kehilangan pekerjaan.

2. Tekanan Informasi & Komunikasi
Teknologi seharusnya membantu manusia dapat hidup lebih baik. Kenyataanya, banyak orang termasuk pria diperbudak teknologi. Orang yang tidak bijak, akhirnya mengorbankan prioritas lain termasuk waktu bersama keluarga.

Jangan-jangan komputer dan handphone sudah menjadi ‘pesaing’ keluarga. Bangun tidur yang dicari handphone, komputer, membuka email dan seterusnya. Sepertinya kita tidak bisa menghindar dari teknologi karena pekerjaan menuntut bisa dihubungi setiap saat dengan respon cepat.

Pria telah dibombardir informasi melalui teknologi, seakan-akan ada keharusan yang memaksa hingga harus menggeser prioritas waktu keluarganya. Sekalipun mereka mengatakan berlibur bersama keluarga, namun handphone mereka tetap berdering untuk urusan pekerjaan.

Di tengah berlibur, hadir stres. Sampai ada orang yang mengatakan tidak lagi “I hate Monday” (saya benci hari Senin), melainkan “I hate Sunday Evening” (saya benci hari Minggu sore), mengapa? Karena besoknya hari Senin, harus bekerja lagi.

Banyak istri dan anak-anak mengeluhkan suami dan papanya tidak lagi punya waktu untuk ngobrol tanpa gangguan. Padahal seharusnya, pria membutuhkan waktu untuk merefleksikan dirinya, istirahat tanpa gangguan, dan kesegaran bagi jiwanya.

3. Tekanan Perjalanan
Berapa banyak waktu yang dihabiskan seorang pria di tengah perjalanan? Hidup di kota besar seperti Jakarta, kita menghabiskan paling sedikit 3 jam di jalan. Dalam seminggu kita menghabiskan lebih kurang 1 hari hanya untuk perjalanan. Belum lagi tugas keluar kota dari kantor yang menggunakan pesawat terbang.

Perjalanan yang melelahkan ini berakibat pada kesehatan di mana kecenderungan mengkonsumsi makanan cepat saji sangat tinggi bahkan tidak teraturnya pola makan. Banyak pria tidak sehat hidupnya karena hal ini.

Tidak sehat membuat hubungan pria terganggu dengan keluarganya, ia menjadi tidak segar ketika pulang ke rumah. Saya menemukan sebagian besar kehancuran hidup pria ada di area ini. Ia menjadi rentan dengan godaan, khususnya hal seksual ketika melakukan perjalanan ke luar kota.

Apabila sebagai pria ditekan terus dengan ketiga hal itu, satu waktu ia menjadi dingin, kehilangan semangat, dan dapat berakibat fatal seperti pria di awal tadi.
Seandainya Anda seorang istri setelah membaca ini melihat bahwa suami Anda mengalami hal serupa, jangan putus asa. Ada sebuah cara yang dapat mengatasi ketiga tekanan ini. Pria harus mau datang kepada Tuhan untuk di’audit’ atau mengijinkan Tuhan melakukan ‘general check-up’ secara rohani dan jiwa.

Pria harus mau menyediakan waktu merefleksikan dirinya secara berkala, terhindar sesaat saja dari kesibukan, bertemu Sang Auditor hidup terbaik.
Ketika Tuhan melakukan ‘audit’, pandanglah bahwa DIA sebagai penolong. Pria yang saya ceritakan di awal tadi akhirnya dipulihkan Tuhan setelah ia menyerahkan dirinya untuk di’audit’ oleh Tuhan. Sungguh luar biasa, bukan?

Tuhan tidak akan pernah rela melihat Anda dan keluarga hidup dalam kehancuran. Jika Anda berkata sepertinya sudah terlambat, sudah terjerumus demikian parah, itu adalah tanda bahwa cara Anda sudah tidak mampu membereskan. Tinggal caranya Tuhan yang unik dan pasti selalu tepat pada waktu-NYA. Sekarang saatnya Anda membuka pikiran dan hati kepada DIA untuk sepenuhnya dibereskan dengan cara-NYA.
Bill Perkins menginspirasi banyak pria melalui prinsipnya yang berbunyi “Success at work, fail at home means FAIL COMPLETELY” (Sukses di pekerjaan, gagal dalam keluarga, adalah Gagal Seluruhnya). Mari menjadi pria yang sukses seutuhnya.

Oleh: Arman Harijanto
Trainer Christian Men’s Network Indonesia
Tulisan ini diinspirasikan dari Patrick Morley – Seven Seasons of the Man in the Mirror

Sumber: Majalah Komunitas AdInfo

[+/-] Selengkapnya...

3.9.07

Brother Keepers

Mentoring adalah bagian yang sangat penting dalam kegiatan yang berhubungan dengan proses mencapai keberhasilan. Dalam aktifitas rohani sangat jelas bahwa target/goal dari mentoring adalah membuat mentoree (yang dimentor) mengalami pemulihan dan akhirnya menjadi seperti Kristus. Jadi jelas kegiatan mentoring ini harus dipersiapkan dengan matang dan terkonsep dengn baik.

123… Yes…. Menyadari begitu pentingnya kegiatan mentoring dan mengetahui bahwa keberhasilan peserta untuk mengalami breakthrough dalam arti sesungguhnya sangat tergantung dari peran aktif seorang fasilitator, Panitia Men’s Camp Area Semanan memulai pelaksanaan camp periode 5 dengan training khusus untuk para mentor/fasilitator.

Training intensif secara serius akan dilakukan 4 kali berturut-turut setiap hari Selasa oleh trainer-trainer dari Christian Men’s Network Indonesia (CMNI), dimulai 28 Agustus pukul 19.00 lalu di ruang Eagle. Nantinya para fasilitator ditargetkan mempunyai pengetahuan yang baik perihal sharing, relationship, doa, pelepasan dan semua materi yang akan dibahas di 13 sesi dari pemuridan Pria Sejati.

Pada training pertama yang dihadiri 27 fasilitator dan supervisor, tampil Arman dan Bambang Irawan sebagai pembicara. Karena peserta yang hadir rata-rata telah menjadi fasilitator pada periode-periode sebelumnya, Arman sudah tidak menekankan lagi mengenai materi-materi dari 13 sesi dari pemuridan Pria Sejati.

Dalam uraian sesuai dengan Lukas 6, Arman menyatakan di dalam pelayanannya Yesus melakukan persiapan yang cukup serius dimana Ia membaginya menurut waktu-waktu tertentu. Dimulai dari malam hari Yesus melakukan persiapan dengan terlebih dahulu melakukan retreat dengan BapaNya (berdoa secara serius & tekun). Pada siang hari Ia dengan penuh keyakinan memilih 12 orang muridnya dari banyak calon yang ada. Dan baru pada sore hari Ia melakukan pelayanan dengan melakukan muzizat-muzizat.

Maknanya? Pelayanan seorang fasilitator harus dipersiapkan dengan matang seperti Kristus. Sebelum memulai pelayanan kepada para peserta, sebagai fasilitator terlebih dulu harus sering melakukan komunikasi (personal retreat) dengan Tuhan terutama pada malam hari. Kemudian harus yakin dan percayalah bahwa fasilitator adalah orang pilihan Tuhan. Oleh karenanya jaga kepercayaan itu dengan baik agar bisa menjadi panutan bagi peserta atau bahkan orang-orang terdekat di lingkungannya. Pelihara komitmen paling tidak dari kehadiran. Dan barulah setelah itu seorang fasilitator bisa mengalami “sore”, dalam arti bisa membuat “muzizat” dimana binaannya mengalami perubahan menuju keserupaan dengan Kristus. Dashyat bukan.

Dibagian lain Arman juga memberikan pencerahan agar para fasilitator tidak loyo dan mengalami kebosonan dalam pelayanan di Pria Sejati. “Saya melihat dan merasakan banyak fasilitator di sini yang sudah mulai loyo dalam melayani,” urai Arman. “Ayo cari penyebabnya. Saya yakin itu karena anda jarang melakukan personal retreat dengan Tuhan pada malam hari. Mari kita tingkatkan lagi komunikasi dengan Tuhan, lakukan doa puasa atau doa semalaman” ajak pria yang tinggal di BSD itu. Percayalah personal retreat dengan Tuhan akan membuat kita akan di-recharge sehingga kembali powerfull.

Dalam bagian lain Arman juga menerangkan mengenai konsep Brother Keepers. Untuk menjadi maksimal sesama fasilitator harus saling menguatkan karena pada dasarnya manusia tidak bisa menguatkan dirinya sendiri. Kemudian ia membagi 27 orang menjadi 9 kelompok @ 3 orang. Masing-masing diberi waktu 3-4 menit untuk saling mendoakan di seluruh aspek kehidupan masing-masing. Sungguh penulis mengalami sesuatu yang lain setelah didoakan oleh rekan.

“Selama ini kita sering terjebak selalu mendoakan program-program supaya berhasil. Tetapi tidak mendoakan diri rekan kita sesama fasilitator secara pribadi. Mulai sekarang jalankan konsep Brother Keepers dengan baik,” lanjut dosen di beberapa perguruan tinggi itu. Setiap kelompok diminta untuk tiap hari saling komunikasi minimal via SMS dan 1 kali 1 minggu bertemu untuk saling mendoakan brother-nya. Akui dan bicarakan dosa-dosa apa yang dibuat hari ini dalam hubungan dengan istri, anak, rekan kerja/bisnis/pelayanan. Jadi jangan selalu menanyakan berkat apa yang diterima. Kemudian saling menguatkan dan berusahalah jangan mengulangi dosa.

Pertemuan berakhir pukul 21.15. Para peserta training terlihat puas dan mendapat spirit yang baru dari materi yang telah diberikan. Kepada para panitia, fasilitator dan supervisor jangan lupa untuk mengikuti training pada Selasa, 4 September 2007, pukul 19.00

Kami mengundang anda untuk mengikuti Men’s Camp periode 5 pada tanggal 2, 6-7 Oktober 2007 mendatang dengan investasi Rp. 350.000,-. Peserta camp tidak terbatas hanya bagi yang mengalami masalah-masalah berat seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Perselingkuhan, Minuman Keras, Narkoba, Judi, Perdukunan, dll. Tetapi juga perlu bagi Pria yang merasa tidak ada masalah (normal/datar saja) atas kehidupan keluarga, karir/usaha dan pelayanannya, agar dapat lebih maksimal. (Novry Simanjuntak)

[+/-] Selengkapnya...