18.4.08

The Magic & Mystery of SEX

[+/-] Selengkapnya...

26.2.08

Jadilah BARNABAS Masa Kini


Pelayanan sebagai fasilitator pada Men’s Camp itu penting! Kita jangan main-main atau tidak serius. Coba saudara bayangkan, bukan hal yang tidak mungkin bahwa pria yang sudah kita bimbing, suatu saat akan menjadi orang yang berhasil dan dikenal luas karena hidupnya dipulihkan setelah mengalami perubahan yang dimulai dari kegiatan Men’s Camp. Bukankah kontribusi yang saudara berikan sangat penting bagi pemulihan para pria agar bisa lebih maksimal.

Demikian hal penting yang disampaikan Bapak Hengky So, S. Th saat memberikan pengarahan singkat kepada tim palaksana Men’s Camp periode 6, khususnya kepada para fasilitator/pembina dan supervisor. Bimbingan yang dilakukan pada Selasa, 18 Februari 2008, pukul 19.00, ditanggapi dengan antusias oleh 30 orang fasilitator dan supervisor belum termasuk panitia.

Dalam trainingnya, Bapak Hengky mengambil nats Alkitab dari KIS 9:27, yakni tentang pertobatan baru Saulus.Saat itu Ia yang kurang dapat diterima oleh orang-orang yang sudah percaya akan Yesus. Tetapi berkat pendampingan Barnabas, Saulus pada akhirnya bisa diterima bahkan akhirnya menjadi seorang rasul yang sangat terkenal dan produktif menulis

Secara logika atau berdasarkan pemahaman manusia, rasanya sulit diterima bagaimana seorang Saulus yang notabene dikenal sebagai pembunuh murid-murid Tuhan, pada akhirnya justru berbalik menjadi pengikut Tuhan yang setia. Disamping karena jamahan Tuhan, hal ini sebanarnya tidak terlepas dari peran Barnabas yang senantiasa mementor Saulus yang saat itu baru bertobat.

“Apakah saudara tidak ingin menjadi Barnabas-Barnabas masa kini,” demikian tantang Bapak Hengky. “Bayangkan jika pria-pria yang saudara mentor, salah satunya ada yang menjadi seperti Paulus di masa kini,” ungkap bapak Hengky memotivasi para fasilitator dan supervisor. Jadi tidak dapat dibantah lagi bahwa fasilitator memegang peranan penting dalam membimbing para pria yang baru bertobat. Mereka tidak dapat dilepas begitu saja setelah camp atau kelas pemuridan selesai. Terus bina hubungan walaupun memang memerlukan pengorbanan waktu, tenaga dan bahkan uang. Itu memang harga yang harus dibayar setelah kita mendapat berkat saat dulu menjadi peserta Men’s Camp. “Percayalah Tuhan tahu dan memperhitungkan segala pengorbanan yang telah saudara lakukan sebagai fasilitator, supervisor atau panitia,” lanjut bapak Hengky.

Selanjutnya beliau memberikan tips untuk menjadi fasilitator/supervisor yang baik adalah sbb:

1. Mempunyai Hati Bapa
Penuh dengan KASIH dan rela berkorban tanpa menghitung untung rugi.

2. Memberikan Keteladanan
Ingat fasilitator/supervidor adalah figur rohani bagi pria yang baru bertobat. Oleh karena itu berikan contoh yang baik dalam sikap, bicara dan penampilan.
Keteladanan lebih nyaring/nyata dari 1000 khotbah.

3. Lemah Lembut & Rendah Hati
Lemah lembut bukanlah lemah gemulai tetapi tidak membalas sesuatu yang tidak baik dengan hal-hal yang tidak baik juga. Tidak merasa lebih rohani/baik dari yang dibina. Fasilitator/supervisor adalah pendamping dalam arti yang sesungguhnya. Level fasilitator tidak lebih tinggi atau lebih rendah tetapi disamping atau sebagai teman bagi peserta. Dengan demikian bisa merasakan kekhawatiran atau pergumulan atau hal-hal lain yang dialami peserta. Saat itulah mereka menjadi terbuka sehingga pemulihan bisa terjadi.

4. Pembimbing Rohani
Memberikan jawaban/solusi yang rohani (berdasarkan firman Tuhan), bukan dengan jawaban berdasarkan kepandaian/pengalaman/logika kita. Pembimbing rohani yang baik juga berarti melakukan tugas sebagai konselor atau mentor yang maksimal yaitu dengan membangun hubungan yang erat, punya sikap dapat dipercaya dan mengarahkan orang yang dibina untuk bertumbuh ke arah Kristus serta tidak memanfatkan hubungan yang ada untuk kepentingan pribadi.

Di bagian lain banyak fasilitator yang menyatakan sangat diberkati dan mendapat spirit baru setelah mengikuti training ini. “Pengarahan seperti ini sangat penting, apalagi disampaikan dengan singkat dan tajam seperti yang dilakukan Bapak Hengky. Saya jadi lebih termotivasi dan semakin menyadari bahwa pelayanan sebagai fasilitator ini harus semakin bersungguh-sunguh ,”ujar Johanes Guntur yang baru tergabung di GBI Ecclesia TSI setelah mengikuti Men’s Camp periode 4 dan menjadi fasilitator men’s Camp pada periode 5.

Pertemuan berakhir pukul 20.45. Kepada para panitia, fasilitator dan supervisor jangan lupa untuk mengikuti training menarik lainnya pada Selasa, 26 Februari, pukul 19.00 mendatang.

Kami mengundang anda terutama yang sudah mengikuti SPK untuk hadir pada Men’s Camp periode 6 pada tanggal 15-16 Maret 2008 di Wisma Kompas Gramedia Cipanas dengan investasi Rp. 350.000,-. Peserta camp tidak terbatas hanya bagi yang memiliki masalah tetapi juga perlu bagi Pria yang merasa tidak ada masalah (normal/datar saja) atas kehidupan keluarga, karir/usaha dan pelayanannya, agar dapat lebih maksimal. Percayalah acara ini menarik dan akan membuka paradigma kita akan kemaksimalan seorang pria. (Novry Simanjuntak, novry.sabmen@gmail.com)

[+/-] Selengkapnya...

9.1.08

[+/-] Selengkapnya...

[+/-] Selengkapnya...

4.1.08

Camp Pria Periode 6

Pria adalah SUMBER/KEPALA. Apabila sumber dipulihkan (MAKSIMAL) maka istri, anak dan keluarga PASTI akan diPULIHkan.

Apakah Anda sebagai seorang pria sudah maksimal dalam keluarga, karir/usaha dan pelayanan?
Apakah Anda figur seorang Ayah yang diinginkan anak Anda?
Bagaimana kesan rekan bisnis/bawahan terhadap Anda?
Akankah istri Anda TETAP memilih Anda sebagai suaminya jika ia dilahirkan kembali?

Temukan jawaban atas pertanyaan terbesar dalam hidup seorang pria. Ikuti camp ini, berusahalah untuk berubah dan rasakan berkat Allah turun kepada kita.

Waktu & Tempat Camp:
Sabtu & Minggu tanggal 15-16 Maret 2007
Wisma Kompas Gramedia Cipanas

Informasi & Pendaftaran:

Eddy Adiel, 999 88 655, 0811 144 655
Novry Simanjuntak, 0811 99 29 89, 6866 9989
email. priasejati.semanan@gmail.com

Yang dianjurkan ikut Camp tidak terbatas hanya bagi yang mengalami masalah-masalah berat seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Perselingkuhan, Minuman Keras, Narkoba, Judi, Perdukunan, dll. Tetapi juga perlu bagi Pria yang merasa tidak ada masalah (normal/datar saja) atas kehidupan keluarga, karir/usaha dan pelayanannya.

[+/-] Selengkapnya...

1.1.08

KOMITMEN

Tergelitik oleh novel TESTPACK karangan Ninit Yunita yang bercerita tentang kekuatan sebuah komitmen, saya lantas berandai-andai dan mencoba menyimpulkan arti komitmen --versi saya sendiri, tentunya.
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami menerima istrinya dengan segala kekurangan dan kelemahannya tanpa menghakimi. Bersyukur ketika istrinya tampil menawan, dan sama bersyukurnya ketika sang istri mengenakan daster dengan wajah berminyak tanpa make-up. Bersyukur ketika bentuk tubuh sang istri berubah setelah melahirkan, dan tetap mengecupnya sayang sambil bilang, "Kamu cantik."

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami tidak membongkar kelemahan istrinya pada orang lain. Sebaliknya, menutupi rapat-rapat setiap kekurangan itu dan dengan bangga bertutur bahwa sang istri adalah anugerah terindah yang pernah hadir dalam hidupnya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri menunggui suaminya pulang hingga larut malam, membuatkan teh hangat dan makanan panas, dan tetap terbangun untuk menemani sang suami bersantap serta mendengarkan cerita-ceritanya yang membosankan di kantor.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri bertahan ketika suaminya jatuh sakit, dan dengan sukacita merawatnya setiap hari. Menghiburnya, menemaninya, menyuapinya, memandikannya, membersihkan kotorannya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri terus mendampingi suaminya tanpa mengeluh atau mengomel. Sebaliknya, dengan setia tetap mendukung dan menyemangati meski sang suami pulang ke rumah dengan tangan kosong, tanpa sepeser uang pun.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat sepasang suami istri memutuskan untuk terus mengikatkan diri dalam pernikahan, dengan tulus dan sukacita, meskipun salah satu dari mereka tidak bisa memberikan anak.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat putra pelaku kriminal berkata kepada Ayahnya, "Saya percaya pada Papa. Papa tetap yang terbaik."

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang yang bergelar S3 dengan jabatan direktur perusahaan multinasional pulang ke rumah orangtuanya, mencium mereka dengan hormat, serta memanggil mereka 'Ayah' dan 'Ibu'.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ayah menerima kembali anaknya yang telah menyakiti dan meninggalkannya begitu rupa dengan tangan terbuka, memeluknya dan melupakan semua kesalahan yang pernah dilakukan si anak terhadapnya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ibu mengelus sayang anak yang pernah mencacinya, dan tetap mencintainya tanpa syarat.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang mengulurkan tangan kepada sahabatnya yang terjerembab, menariknya berdiri dan membantunya berjalan tanpa mengatakan, "Tuh, apa kubilang! Makanya."

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang pekerja menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik, sekalipun tugas itu amat berat dan upah yang diperoleh tidak sepadan.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati dan tekad demi mencapai sebuah tujuan, sekalipun ia belum dapat mengetahui hasil akhir dari tujuan tersebut. Berjerih payah dan berkorban demi menyelesaikan tujuannya, sekalipun semua orang meninggalkannya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang rela meninggalkan segala sesuatu yang berharga demi memenuhi panggilan hidupnya, walau harga yang harus dibayar tidak sedikit dan medan yang ditempuh tidak ringan.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang berani setia dan percaya, meski harapannya tidak kunjung terpenuhi dan tidak ada yang dapat dijadikan jaminan olehnya.

Komitmen adalah sesuatu yang melampaui segala bentuk perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah. karena ketika kita berani mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, kita telah 'mati' terhadap kepentingan diri sendiri. (sumber: CMN Banten)

[+/-] Selengkapnya...