25.7.07

Wisuda Periode 4 - Terobosan Besar Perlu Iman Kekar




123 (OneTwoThree) …. YES. Demikian salam motivasi khas Pria Sejati, dinyatakan penuh semangat oleh banyak pria. Mereka diutus untuk kembali ke tengah-tengah keluarga, gereja, bisnis dan masyarakat masing-masing. Suatu hal yang membanggakan sekaligus tantangan yang mesti harus diperjuangan

Minggu, 22 Juli 2007 lalu, bersamaan dengan kebaktian umum sore, berlangsung wisuda Pria Sejati area Semanan yang telah memasuki Periode 4. Sebanyak 70 pria dinyatakan siap untuk diutus setelah mengikuti pembinaan pada pra camp, camp dan 6 sesi pemuridan.

Acara diawali dengan pujian dan penyembahan yang dipimpin oleh Albert dan Altjin Wijaya, diikuti kesaksian oleh 2 orang pria. Masing-masing mengungkapkan bahwa sebelum mengikuti Men’s Camp ini, mereka merasa sudah sejati sebagai seorang Pria. “Saya sudah mempunyai 5 putera, 2 puteri, 3 cucu dan saya sudah memberikan semua kebutuhan mereka. Saya sudah pria sejati dong, jadi untuk apa lagi saya ikut camp,” kata Suhadi Misran sebelum mengikuti camp.

Demikian juga dengan Oei Tino yang merasa sudah memberi banyak hal kepada anak dan istrinya. akhirnya setelah mengikuti camp, baru mereka sadar dan terbuka bahwa ternyata mereka belum maksimal. “Saya merasakan jamahan Tuhan dan sadar bahwa apa yang saya pikir bahwa saya sudah sejati, tenyata belum,” katanya. Selanjutnya pria yang terhitung baru ke gereja ini menyatakan, “Saya akan berubah lebih baik lagi.”

Acara dilanjutkan dengan pembacaan janji untuk tetap menjadi pria sejati oleh Yohanes Guntur yang diikuti oleh peserta lain, serta kesan dan pesan dari peserta yang diwakili oleh Pdt Rusel Manullang. Kemudian Pdt Hengky Setiawan tampil ke mimbar untuk memberikan doa pengutusan kepada para wisudawan. “Jika Pria berubah dan menjadi maksimal maka keluarga, gereja dan bahkan bangsamu pasti akan diberkati. Saudara-saudaraku pulanglah, kami utus engkau masuk dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan dan masyarakat. Dimanapun engkau berada, wibawa Kristus akan terpancar di wajahmu. Jadilah pria yang bisa menjadi teladan………,” doa Pdt Hengky Setiawan.

Kemudian pada bagian khotbah dengan tema Terobosan Hidup (Lukas 18:31-43), Pdt Hengky Setiawan mengungkapkan beberapa hal. Kepada para pria khususnya beliau menyatakan bahwa untuk keluar dari masalah atau mendapatkan muzizat, kita harus melakukan perubahan/terobosan yang besar. Sedangkan untuk membuat terobosan yang besar diperlukan iman yang kuat (sejati, teruji dan terbukti). Iman sendiri harus memiliki tahapan tahu, percaya dan bertindak.

Panitia dan fasilitator camp Pria Sejati area Semanan mengucapkan selamat kepada para wisudawan Pria Sejati periode 4. Perjuangan kita untuk menuju keserupaan dengan Kristus baru dimulai. Sebab bagi seorang pria sejati, dosa adalah dosa. Dosa bukanlah sekedar masalah. Akan banyak tantangan baik dari keluarga terdekat kita atau yang lain. Jangan lupa perubahan bukanlah perubahan, sampai terjadi suatu perubahan. Dan pemenang bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang tidak pernah berhenti mencoba.

Bagi anda alumni Pria Sejati yang mengalami jamahan Tuhan, merasa dipulihkan dan mendapat berkat serta memperoleh spirit menjadi pria yang maksimal atau lebih maksimal, jangan tahan berkat tersebut dan bagikanlah. Ajak keluarga, tetangga, rekan gereja, rekan kerja/bisnis anda untuk ikut camp periode berikutnya.

Mari kita ubah dunia, percayalah makin banyak pria berubah, makin banyak keluarga diberkati, gereja makin bertumbuh dan bangsa kita akan dipulihkan.

Peserta camp Pria Sejati tidak terbatas hanya bagi yang mengalami masalah-masalah berat seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Perselingkuhan, Minuman Keras, Narkoba, Judi, Perdukunan, dll. Tetapi juga perlu bagi Pria yang merasa tidak ada masalah (normal/datar saja) atas kehidupan keluarga, karir/usaha dan pelayanannya, agar dapat lebih maksimal.

Camp periode 5 akan dilaksanakan pada tanggal 2, 6-7 Oktober 2007. Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut hubungi: Eddy Adiel 0811 144 655, Novry Simanjuntak 6866 9989, 0811 99 29 89

[+/-] Selengkapnya...

23.7.07

PS Periode 4 Sesi 6 - Pernikahan Dilahirkan Kembali

[+/-] Selengkapnya...

PS Periode 4 Sesi 4 - Diam Lihat Dengar


Pemuridan Pria Sejati Area Semanan periode 4 sesi ke-empat dilaksanakan pada Selasa tanggal 3 Juli 2007 lalu. Materi Diam Lihat & Dengar dibawakan oleh Pdt. Mangunsong dengan lugas dan menarik. Beliau menyatakan bahwa kebutuhan wanita lebih ke arah keintiman/ngobrol. Mereka sangat ingin untuk didengar dengar baik.

Mendengar yang dimaksud adalah:
1. Mendengar sampai kita mengerti apa yang dibutuhkan oleh istri dan atau anak kita.
2. Mendengar bukanlah pekerjaan sambil lalu, yang hanya berhubungan dengan telinga saja tetapi juga membutuhkan perhatian.
3. Mendengar adalah suatu atau salah satu bentuk pelayanan.~



Pemuridan berakhir pada jam 21.30 setelah berlangsung altar call dan sharing kelompok. Pdt Hengky So (gembala sidang GBI Ecclesia) menutup acara dengan doa berkat. Amin

[+/-] Selengkapnya...

19.7.07

Camp Pria Sejati Periode 5 (Oktober 2007)

Pria adalah SUMBER/KEPALA. Apabila sumber dipulihkan (MAKSIMAL) maka istri, anak dan keluarga PASTI akan diPULIHkan.

Apakah Anda sebagai seorang pria sudah maksimal dalam keluarga, karir/usaha dan pelayanan?
Apakah Anda figur seorang Ayah yang diinginkan anak Anda?
Bagaimana kesan rekan bisnis/bawahan terhadap Anda?
Akankah istri Anda TETAP memilih Anda sebagai suaminya jika ia dilahirkan kembali?

Temukan jawaban atas pertanyaan terbesar dalam hidup seorang pria. Ikuti camp ini, berusahalah untuk berubah dan rasakan berkat Allah turun kepada kita.

Waktu & Tempat Camp:
Selasa, Sabtu & Minggu tanggal 2, 6-7 Oktober 2007
Wisma Kompas Gramedia Cipanas

Informasi & Pendaftaran:

Eddy Adiel, 0811 144 655
Novry Simanjuntak, 0811 99 29 89, 6866 9989
email. priasejati.semanan@gmail.com

Yang dianjurkan ikut Camp tidak terbatas hanya bagi yang mengalami masalah-masalah berat seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Perselingkuhan, Minuman Keras, Narkoba, Judi, Perdukunan, dll. Tetapi juga perlu bagi Pria yang merasa tidak ada masalah (normal/datar saja) atas kehidupan keluarga, karir/usaha dan pelayanannya.

[+/-] Selengkapnya...

18.7.07

Pria Sejati, Empat Hal yang Membuktikan

Merupakan hal biasa bila suami dan istri dalam sebuah keluarga memiliki penghasilan sendiri-sendiri. Keduanya bekerja untuk menafkahi keluarganya sehingga keduannya merasa memiliki andil dan kedudukan yang sama dalam keluarga. Larut dalam kesibukan, terkadang mereka lupa, siapa yang seharusnya menjadi pemimpin dalam sebuah keluarga.

Kealpaan seorang pemimpin dalam keluarga terkadang bisa menyebabkan pertengkaran atau saling melempar tanggung jawab. Begitu juga bila keduanya (suami-istri) merasa menjadi pemimpin, tidak jarang yang berakhir dengan perceraian. Keegoisan dan keyakinan diri dalam masalah ekonomi, membuat mereka berani melanggar janji pernikahan.
Pemimpin adalah seorang yang patut untuk diikuti dan dipatuhi. Pemimpin yang akan bertanggung jawab dan menuntun serta membuat keputusan dalam hidup ini. Seorang ayah atau pria dalam sebuah keluarga adalah pemimpin. Walaupun dalam budaya beberapa daerah mengatakan lain, pria tetap dikodratkan untuk menjadi pemimpin.
Dalam melakukan hal ini, kaum pria dituntut harus tegas. Bukan kasar, tapi tegas. Kepemimpinan di dalam rumah tangga ada di tangan kaum pria yang memiliki sikap tegas sekaligus sikap lembut. Ada keseimbangan, karena itu adalah kunci dari kehidupan.
Begitu juga terhadap anak-anak, hadiah atau imbalan harus seimbang dengan hukuman, perhatian harus seimbang dengan pukulan, dan pujian atau penghargaan harus seimbang dengan teguran.
Mungkin ada yang mengatakan salah akan ketegasan ini. Ada pemikiran yang mengatakan kita harus tetap sabar atau bersikap halus, tetapi kadang kehalusan sikap malah seringkali membunuh kita. Sekali waktu, kita juga harus belajar untuk bisa menjadi tegas terhadap orang lain dan diri kita sendiri.
Kasih sayang, hawa nafsu, dan keinginan, semuanya harus diuraikan dalam konteks kedisiplinan, termasuk kasih. Atau kita mengasihi sesuatu yang kelak akan membunuh kita. Kedisiplinan membutuhkan ketegasan.
Di samping ketegasan, seorang pria juga harus mampu membuat keputusan. Kalaupun keputusan tersebut salah atau cacat, akuilah dan jangan diulangi lagi. Belajarlah dari hal tersebut dan lakukan sesuatu dari pengalaman itu. Menangisi sesuatu yang telah terjadi, hidup dengan rasa penyesalan, atau mengingat kesalahan masa lalu adalah tindakan salah.
Ketegasan, keputusan dan kepemimpinan adalah ciri seorang pria yang sejati.
Para wanita ingin suaminya menjadi pembuat keputusan. Tetapi, keputusan yang keluar dari seorang pemimpin, bukan dari seorang diktator. Ada perbedaan besar di antara kedua kata tersebut. Diktator membuat keputusan berdasarkan pilihan, atau kepuasan pribadi, tetapi pemimpin membuat keputusan berdasarkan pada apa yang terbaik bagi pengikutnya.
Di balik keputusan tersebut, ada tanggung jawab. Kaum pria memiliki tanggung jawab utama atas keputusan yang mereka perbuat.
Inti dari kedewasaan adalah menerima tanggung jawab yang demikian. Dan, kedewasaan adalah inti dari kesempurnaan Anda sebagai seorang pria sejati.
Pemikiran populer sekarang ini mengatakan bahwa kedewasaan datang dengan bertambahnya usia. Itu tidak benar. Anda bisa saja tua dalam usia, tetapi kedewasaan datangnya dari penerimaan tanggung jawab –dalam semua aspek kehidupan.
Menurut Louise Cole dalam bukunya “Kesempurnaan Seorang Pria Sejati”, terdapat cukup banyak anak-anak di Amerika yang melarikan diri dari rumahnya. Anak-anak tersebut, katanya, hanyalah meniru orang tuanya yang juga melarikan diri –yang paling sering adalah ayahnya. Di California, sedikitnya terdapat 400 ribu kaum wanita yang hidup sendiri dengan anak-anaknya karena suami mereka melarikan diri dari rumah.
Keempat ratus ribu kaum pria California ini tidak dapat, tidak ingin, atau tidak pernah memilih untuk menerima tanggung jawab menjadi suami atau ayah. Dan, mereka mengingkari janji pernikahan.
Dahulu, kata perceraian menjadi sebuah kata yang mengerikan. Sekarang ini, perceraian sudah menjadi hal yang biasa. Perceraian biasanya digunakan untuk menghindari tanggung jawab.
Banyak pria yang berganti dari satu wanita ke wanita lainnya, dari satu tempat ke tempat lainnya, sambil memproklamirkan diri sebagai seorang pria “macho” yang terkenal. Kemampuan untuk menjadi seorang ayah, bukanlah hal yang penting dalam membuktikan kepriaan.
Dengan begitu, sesungguhnya, mereka tergolong masih kekanak-kanakan, tidak dewasa di dalam roh, dan pemikiran, hidup dalam kehidupan yang lemah, tidak menentu, dangkal dan tanpa karakter.Beberapa pria telah menjadi dewasa ketika berumur tujuh belas tahun, sementara yang lain baru dewasa di usia tujuh puluh tahun kerena umur tidak bisa menentukan kedewasaan seorang pria. Kedewasaan bisa diukur dari kepemimpinan, ketegasan, keputusan dan tanggung jawab yang mau dipegangnya. (Novry Simanjuntak, novry.sabmen@gmail.com)

[+/-] Selengkapnya...

Sebuah Pengantar Menjadi Pria Sejati

Menjadi pria adalah sebuah takdir, tetapi menjadi pria sejati adalah sebuah pilihan. Sejati dalam tindakan dan pikiran sehingga seorang pria bisa menjadi pemimpin, kepala rumah tangga dan seorang yang bertanggung jawab. Namun, kenyataanya masih banyak pria yang cenderung lari dari tanggung jawab, jarang mendengar, egois, merasa paling berkuasa dan menyerahkan segalanya kepada istri.

Fenomena ini seringkali ditemukan dan sepertinya sudah menjadi masalah sosial klasik yang lama, terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan. Kesibukan pekerjaan dan pola pikir adalah sebagian penyebab mengapa pria tidak sejati. Akibatnya adalah ketidakharmonisan hubungan suami istri dan bukan tidak mungkin anak akan menjadi korbannya.

Hal lainnya adalah tentang kebiasaan dan gaya hidup sebagian pria yang terbilang “menyimpang”. Misalnya berambut panjang atau memakai anting-gelang–kalung. Mereka juga banyak yang menjadi seorang pria ”macho” dengan tindakannya yang tidak bertanggung jawab atau menjadi pria penganut seks “bebas”.
Dengan begitu, pria akan mengalami krisis identitas atau tidak lagi menjadi figur utama dalam sebuah keluarga.

Menurut Ben Kinchlow dalam bukunya Edwin Cole yang berjudul “Kesempurnaan Seorang Pria”, dalam banyak kasus, pria menjadi orang yang “bebas”. Atau dia sudah diajarkan dengan prinsip-prinsip feminisme, yang menghalangi posisinya sebagai pria.
Pada waktu yang sama, kaum wanita banyak pula yang mengenakan pakaian mini, rambut dipotong pendek, dan mengenakan celana panjang serta baju-baju pria, bahkan mengenakan dasi. Di dalam usaha untuk “menegaskan” pribadi mereka yang sesungguhnya” atau “menghukum penindas mereka”, banyak wanita membiarkan kemarahan mereka yang selama ini dipendam atau kebencian pribadi meledak dalam bentuk kekerasan terhadap kaum pria yang mereka anggap penyebab kesalahan.

Kaum pria dan wanita yang tidak mengerti betul siapa diri atau peran mereka sebenarnya menjadi bingung dan gelisah. Sehingga menimbulkan dampak psikologi baru, yang oleh Edwin Cole disebut “kacau-balau”. Kaum pria sering tidak membuat keputusan dengan jelas atau membuat komitmen dengan jelas dan tegas. Akhirnya kaum pria, wanita dan anak menjadi marah dan frustasi.

Pria dalam Keluarga

Sosok dan peran pria akan terlihat ketika seseorang sudah menjadi kepala keluarga. Dalam tahap ini, pria terkadang harus merubah beberapa sikap dan pendapatnya. Satu di antaranya adalah sikap saling menghormati dan menghargai antara suami dan istri. Dengan begitu, hubungan suami-istri akan memiliki nilai yang dihargai oleh kedua belah pihak.

Walaupun pria ditakdirkan sebagai seorang pemimpin, terutama dalam keluarga, seorang pria tidak serta merta memiliki kekuasaan yang absolut dan bersifat otoriter. Di balik semua itu, istri pun sebenarnya memiliki kekuatan yang sama dalam mengurus keluarga. Istri bukanlah “budak” untuk memenuhi segala kebutuhan suami dan keluarga.
Terkadang, seorang pria bertindak semaunya terhadap istri dan anak-anaknya. Pria merasa menjadi pemimpin lalu bersikap egois dan tidak bertanggung jawab. Bahkan ada pria yang mengorbankan istrinya untuk mendapatkan perhatian orang lain. Atau melemparkan kesalahan kepada orang lain dalam usaha mencari pembenaran. Baik dalam pandangan diri sendiri maupun orang lain.

Coba saja lihat betapa banyaknya ibu yang harus bertanggung jawab terhadap urusan rumah tangga dan anaknya, jumlah guru yang kebanyakan adalah wanita, atau para pekerja yang ada di bioskop- toko makanan-department store-restoran- kedai kopi. Hampir semuanya dikerjakan oleh wanita, lalu bagaimana dengan peran pria? Padahal katanya pria adalah yang harus bertanggung jawab dan menjadi pemimpin.

Ada banyak hal yang harus dipelajari atau dipahami tentang bagaimana menjadi seorang pria sejati. Beberapa di antaranya adalah mengenai tanggung jawab, kepemimpinan, kejahatan, perubahan, keberanian, kebenaran, kesediaan mendengar dan banyak lagi.
Banyak pria yang mampu merubah lingkungan atau tempat kerjanya, tetapi sedikit yang bisa merubah dirinya sendiri.

Penulis sendiri baru memahami setelah mengikuti camp Pria Sejati di Puncak beberapa waktu lalu. Ternyata masih banyak yang harus direnungi dan dimengerti bagaimana mengejar kesempurnaan menjadi seorang pria sejati. (Novry Simanjuntak,
www.novry.com)

[+/-] Selengkapnya...

16.7.07

Camp Periode III - 2-4 Maret 2007


155 Pria Berkumpul, Hadirat Allah Muncul

Oleh: Novry Simanjuntak

123… Yes. 50 orang pria panitia dan fasilitator serta 105 peserta dimana beberapa non Kristen memilih untuk memulai tahun 2007 ini dengan mengikuti Camp Pria Sejati. Lebih dari 20 denominasi gereja dengan berbagai macam etnis dan latar belakang mewarnai peserta camp kali ini, yang untuk ketiga kalinya diselenggarakan oleh CMN Indonesia bekerjama dengan GBI Ecclesia TSI.

2 Bis peserta berangkat dari Jakarta pukul 07:00 dan sampai di lokasi (Wisma Kompas Gramedia) 2,5 jam kemudian. Gebrakan pertama (Musa dan Kesepuluh Undangan) dibawakan oleh Bp. Daniel Gultom. Sesi pertama ini ditutup dengan altar call yang luar biasa. 100% peserta maju untuk bertobat, hancur hati. Pengakuan dosa, keterbukaan, dilakukan dengan sepenuh hati, terlihat saat peserta seperti enggan menghentikan diskusi kelompok untuk masuk ke sesi berikutnya (Hukum Maksimal) yang juga dibawakan oleh Bp. Daniel Gultom. 5 Dosa yang menjadi penghalang kemaksimalan Pria dibahas tuntas pada sesi ini. Banyak pria yang akhirnya tahu dan “jebol gengsinya” dengan menitikan air mata karena menyesal dan merasa berdosa akan apa yang dilakukan selama ini terhadap diri pribadi, istri dan anak mereka. Allah bekerja dashyat luar biasa.

Setelah istirahat siang, barulah dibuka kesempatan untuk mempermalukan Iblis. Kesaksian dan pengakuan dosa para peserta di atas panggung seperti mengalir. Semua memberikan kesaksian bahwa pada awalnya tidak mempunyai niat sama sekali mengikuti camp ini karena merasa sudah menjadi pria yang sejati. Ada juga yang hanya sekedar ingin tahu, dipaksa istri atau atasannya. Tetapi akhirnya mereka mengakui bahwa camp ini sangat membuka paradigma peserta akan pengertian pria sejati dan mereka merasa sangat diberkati. Banyak kesaksian yang menyatakan komitmen mereka untuk berubah. Padahal ini baru dua sesi.

Tema selanjutnya (Ada Celah di Daun Pintu) dibawakan oleh Bp. Ishak Tulus. Seperti camp yang lalu, sesi ini selalu menarik untuk dicermati. Materi ini membuat pria banyak dibebaskan dari ikatan dosa dengan cara memberikan pengampunan dan mengaku dosa untuk diampuni, mungkin kepada istri, anak, orang tua atau pihak-pihak lain. Sekali lagi Allah bekerja, menyentuh banyak hati para pria saat tantangan kesembuhan, pelepasan dosa akan berhala seperi rokok, minuman keras, obat terlarang dan pikiran porno dinyatakan. Ada beberapa peserta yang “tumbang” saat terjadi pelepasan akan jimat-jimat atau ilmu-ilmu yang bertentangan dengan firman Tuhan. Demikian juga Malam itu banyak kamar yang masih terdengar sharingnya sampai larut malam.

Esoknya, kesaksian dan fakta-fakta tentang pria yang tidak maksimal diutarakan mendominasi sesi ini. Hasilnya benar-benar dashyat. Seorang pria berusia 76 tahun memberikan kesaksian. Ia yang sudah berusia lanjut dan telah mempunyai anak dan cucu ternyata setelah mengikuti beberapa sesi, merasa belum pria yang sejati dan masih tetap berkeinginan untuk menjadi pria yang maksimal. Bp. ……… merasakan berkat dari camp ini dan mendorong para pria terutama yang lebih muda darinya mengikuti camp ini.

Sesi empat (Adakah Seorang Imam di dalam Rumah Tangga?) dibawakan oleh Bp. Sin Mulyadi dengan singkat, tajam, dan jelas, dilanjutkan dengan altar call. Sedangkan sesi lima (Tanggung Jawab Berhenti di Sini) dan sesi terakhir (Pimpinan Yang Diubahkan) dibawakan oleh Bp. Budi Yonathan. Kesempatan bersaksi di panggung pada sesi lima dibanjiri peserta. Pada sesi ini terjadi pemulihan dalam satu keluarga dimana ayah dan anak sama-sama mengikuti camp ini dan mereka saling memaafkan. Sungguh sangat mengharukan dan Bp. Eddy Adiel sebagai ketua panitia sampai menitikan air mata saat mendoakan mereka. Pada bagian lain sebagian besar peserta menyatakan sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan istri dan anak mereka untuk meminta maaf atas dosa-dosa yang selama ini diperbuat.

Acara diakhiri dengan dengan doa bersama. Ada suasana haru antara fasilitator dan peserta karena harus berpisah. Allah bersuka cita hari itu. Banyak kesaksian para pria yang mengambil komitmen untuk berubah, menjadi lebih baik, menjadi serupa dengan Kristus. Pukul 16:30 bis dan kendaraan terakhir meninggalkan lokasi camp, mengantarkan para pria kembali ke rumah tangganya untuk mengalami perubahan.

Kepada peserta jangan lupa untuk tetap mengikuti kelas tiap hari Selasa pukul 19.00 mulai tanggal 13 Maret 2007. Tetaplah berdoa, mintal dukungan kepada istri dan berusahalah keras untuk mencoba berubah karena pemenang bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang tidak pernah berhenti mencoba.

105 pria MEMILIH memulai tahun 2007 ini dengan tekad berubah untuk MENJADI SERUPA DENGAN KRISTUS. Bagaimana dengan anda? Percayalah apabila pria (sumber) dipulihkan maka keluarga, karir/bisnis dan pelayanan pun akan dipulihkan. Daftarkan diri anda segera pada Camp berikutnya tanggal 9-10 Juni 2007! Tuhan memberkati.

[+/-] Selengkapnya...